
Mengenal Avoidant Attachment dan Cara Menghadapinya dalam Hubungan
Avoidant attachment adalah salah satu gaya keterikatan yang sering muncul dalam hubungan interpersonal. Orang dengan gaya ini cenderung menjaga jarak emosional ketika hubungan membutuhkan kedekatan atau keterbukaan. Meski tampak seperti menghindari masalah, perilaku ini memiliki dasar psikologis yang telah diteliti secara ilmiah dan bukan sekadar sikap cuek tanpa alasan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Jurnal Attachment, Attractiveness, and Social Interaction: A Diary Study menunjukkan bahwa individu dengan avoidant attachment melaporkan tingkat kedekatan emosional yang lebih rendah, memiliki lebih sedikit pengalaman interaksi yang memungkinkan kedekatan, serta cenderung mengatur interaksi sosial agar meminimalkan kedekatan dengan orang lain.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga hubungan tetap sehat meskipun pasangan cenderung menghindar ketika masalah muncul:
-
Beri Ruang Tanpa Menekan
Pasangan yang memiliki sifat avoidant attachment sering merasa tegang ketika harus menghadapi emosi besar atau konflik secara langsung. Memberi ruang bukan berarti membiarkan segala hal tidak terselesaikan, melainkan memberi waktu agar mereka dapat kembali dalam keadaan lebih tenang dan siap berbicara. -
Gunakan Komunikasi yang Tenang dan Jelas
Saat berbicara soal masalah, gunakan kalimat yang menyatakan perasaanmu, misalnya “aku merasa…”. Nada yang tenang dan langsung cenderung lebih mudah diterima oleh avoidant, karena mereka cenderung mundur saat merasa ditekan atau disalahkan. -
Konsistensi Meningkatkan Rasa Aman
Orang dengan avoidant attachment sering kurang nyaman saat hubungan terasa tidak stabil. Dengan tetap konsisten dalam kata-kata dan tindakanmu, misalnya tepat waktu, jujur, dan terbuka, kamu dapat membantu menciptakan rasa aman yang dapat mengurangi kecenderungan mereka untuk “menghindar”. -
Hargai Kemandirian, tapi Tetap Bangun Kedekatan Bertahap
Kemandirian adalah hal penting bagi avoidant. Tapi bukan berarti tidak bisa dekat, kedekatan bisa dibangun perlahan melalui momen kecil seperti berbagi minat atau quality time tanpa tekanan untuk bersikap emosional secara intens sekaligus. -
Fokus pada Pola Perilaku, Bukan Hanya Kata “Tidak Serius”
Salah satu temuan dalam studi tentang attachment style dan komitmen menunjukkan bahwa gaya keterikatan insecure, termasuk avoidant, berkaitan negatif dengan komitmen pernikahan atau komitmen jangka panjang lain. Artinya, orang dengan gaya ini memang cenderung menunjukkan komitmen yang lebih rendah secara statistik, dibanding mereka yang secure, tapi bukan berarti mereka tidak serius sama sekali.
Kesimpulan
Pasangan yang sering “hilang saat ada masalah” tidak otomatis berarti tidak mencintai atau tidak serius. Perilaku ini bisa menjadi manifestasi dari pola keterikatan yang lebih suka mengelola intensitas emosional dengan mundur dulu. Dengan pendekatan yang tepat, ruang saat diperlukan, komunikasi tenang, konsistensi, serta menghargai kebutuhan mereka akan kemandirian, hubungan dapat berjalan lebih sehat, bahkan ketika dinamika emotional avoidance muncul.
Komentar
Kirim Komentar