Pasien Keracunan MBG di Martapura Diperbolehkan Pulang Setelah Perawatan

Pasien Keracunan MBG di Martapura Diperbolehkan Pulang Setelah Perawatan

Pasar smartphone kembali dihebohkan dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Pasien Keracunan MBG di Martapura Diperbolehkan Pulang Setelah Perawatan yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.
Pasien Keracunan MBG di Martapura Diperbolehkan Pulang Setelah Perawatan

Korban Keracunan MBG di Martapura Diperbolehkan Pulang

Sejumlah korban dugaan keracunan menu makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan medis. Keputusan ini diambil setelah para korban menunjukkan kondisi yang membaik dan stabil.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Petugas keamanan di lokasi rumah sakit menyebutkan bahwa pasien terakhir dipulangkan sekitar pukul 13.00 Wita. Mereka dinyatakan sudah bisa dirawat di rumah setelah mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. “Semua sudah pulang, terakhir tadi sekitar jam satu siang. Kondisinya sudah stabil dan bisa rawat jalan di rumah,” ujar salah satu petugas yang ditemui di area IGD.

Penyebab Keracunan Masih Dicari

Ahli kimia dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof Muthia Elma, memberikan respons terhadap kasus keracunan ini. Menurutnya, jumlah korban yang mencapai 130 orang menunjukkan adanya faktor-faktor lain selain unsur kimia seperti nitrat atau nitrit. Ia menilai kemungkinan besar ada aspek kebersihan dan higienitas dalam proses pengolahan makanan yang turut berkontribusi.

“Selain senyawa kimia seperti nitrat atau nitrit, penyebab utama makanan bisa rusak adalah keberadaan bakteri E-coli. Ini bisa terjadi karena masalah kebersihan saat memasak, penyimpanan, atau kondisi lingkungan dapur,” jelas Muthia.

Ia menambahkan bahwa makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, atau bahan kimia dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, dan diare. “Kalau hanya nitrat, dampaknya mungkin tidak separah ini. Tapi bila ada kontaminasi bakteri, efeknya bisa jauh lebih cepat dan berat,” ungkapnya.

Hasil Uji Laboratorium Sementara

Data mengenai jumlah korban keracunan MBG di Martapura mencapai angka 130 orang. Data ini merupakan akumulasi yang dikumpulkan hingga Jumat (10/10) siang dari siswa yang sakit dan mual-mual. Hasil uji laboratorium sementara menunjukkan adanya kontaminasi nitrat pada nasi kuning dan sayur.

Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari Laboratorium Forensik (Labfor) Cabang Surabaya. Hal tersebut diungkapkan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, dr H Noripansyah. “Dari hasil uji laboratorium sementara, nasi kuning dan sayur menunjukkan hasil positif nitrat. Artinya, kandungan ini bisa menjadi penyebab munculnya gejala keracunan pada siswa,” ujarnya saat dikonfirmasi di RSUD Ratu Zalecha.

Noripansyah menegaskan bahwa hasil pemeriksaan ini masih bersifat sementara, namun menjadi indikasi awal adanya unsur berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi siswa. Selain nasi kuning, pada ompreng yang dibagikan Kamis (9/10) juga berisi ayam suwir, tempe orek, tumis labu siam wortel dan buah melon. Namun untuk sampel ayam belum menunjukkan hasil positif, dan masih melanjutkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Nitrat dan Risiko Kesehatan

Menurut Noripansyah, nitrat dapat berasal dari bahan makanan yang sudah tercemar maupun dari proses pengolahan yang tidak sesuai standar. “Zat ini bisa muncul dari bahan yang tercemar atau dari proses pengolahan makanan. Nanti ahli keamanan pangan akan mendalami lebih detail,” kata Ifansyah.

Dia menekankan bahwa temuan positif nitrat ini belum menjadi kesimpulan akhir. Dinas Kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. Diketahui nitrat—senyawa asal dari nitrit—secara alami memang ada di sayuran dan buah karena diserap dari tanah atau air. Dalam kadar wajar, senyawa ini bahkan berperan positif. Namun saat nitratnya sudah berubah menjadi nitrit, bisa menyebabkan keracunan.


Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar