
Revolusi Pertanian di Thailand: Perempuan Petani yang Mengubah Masa Depan Pangan
Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin mengancam, sebuah revolusi pertanian kecil namun berdampak besar sedang berkembang di wilayah utara Thailand. Kisah ini dipimpin oleh Wisa Lakkhampa, seorang petani perempuan yang kini menjadi simbol ketangguhan dan harapan bagi komunitasnya.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dari liputan National Geographic yang dilakukan oleh fotografer Rena Effendi, kisah Wisa tidak hanya tentang menanam dan memanen, tetapi juga bagaimana satu individu mampu memimpin perubahan menuju sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Pendekatan yang ia terapkan adalah whole farm approach, yaitu sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan setiap bagian lahan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Bertani dengan Ilmu dan Kepedulian
Wisa lahir di Khon Kean, wilayah Isan, Thailand. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kehidupan di sawah. Namun, tantangan mulai meningkat ketika perubahan iklim mulai memengaruhi hasil panen. Kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem membuat banyak petani kecil kehilangan sumber penghidupan.
Tidak tinggal diam, Wisa mencari solusi untuk menjaga lahannya tetap produktif. Ia bergabung dengan program pelatihan yang digagas oleh PepsiCo dan lembaga kerja sama internasional asal Jerman, GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), melalui program develoPPP. Program ini melatih lebih dari 3.000 petani di Thailand utara agar mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan metode pertanian regeneratif.
Efisien, Ramah Lingkungan, dan Menguntungkan
Salah satu inovasi yang diterapkan Wisa adalah metode alternate wetting and drying; cara mengelola air sawah dengan mengeringkan dan membanjirinya secara bergantian. Teknik ini terbukti mampu menghemat air hingga 30 persen serta menekan emisi gas rumah kaca.
Setelah panen padi, jerami dibajak kembali ke tanah untuk menyuburkan lahan sebelum menanam kentang dan jagung secara bergiliran. Ia juga menggunakan irigasi tetes agar air dan nutrisi tanah terserap lebih efisien. Hasilnya luar biasa. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia berkurang drastis, hasil panen meningkat, dan pendapatan keluarga pun naik signifikan.
Menjadi Pemimpin di Komunitasnya
Keberhasilan Wisa menarik perhatian komunitas petani sekitar. Ia kini aktif menjadi pelatih dan mentor bagi kelompok perempuan petani di daerahnya. Salah satu sawahnya bahkan dijadikan lahan percontohan untuk praktik pertanian regeneratif.
Sejak pelatihan pertama, para petani melihat potensi besar Miss Wisa sebagai pemimpin dan penggerak perubahan di komunitasnya. Berkat program develoPPP dan kolaborasi dengan PepsiCo, ribuan petani kecil di Thailand kini lebih siap menghadapi tantangan iklim. Dari tahun 2022 hingga 2024, para petani yang tergabung dalam program tersebut berhasil meningkatkan pendapatan lebih dari 50 persen dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 27 persen per ton hasil produksi.
Menatap Masa Depan Pangan Dunia
Kisah Wisa Lakkhampa menjadi inspirasi global tentang bagaimana perubahan besar dapat dimulai dari satu lahan kecil dan satu ide sederhana. Seperti halnya Wisa, para petani di seluruh dunia kini menjadi ujung tombak perubahan; menanam bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan generasi berikutnya.
Sejalan dengan upaya ini, PepsiCo dan National Geographic Society meluncurkan program baru yang mendukung peneliti dan petani di seluruh dunia untuk memperluas praktik pertanian regeneratif. Misi utamanya adalah membangun sistem pangan yang mampu menopang 10 miliar penduduk dunia pada tahun 2050, tanpa mengorbankan kelestarian bumi.
Komentar
Kirim Komentar