
Peringatan Santo Yohanes Kansius, Pengaku Iman
Hari Selasa, 23 Desember 2025, diperingati sebagai hari pesta Santo Yohanes Kansius, seorang tokoh penting dalam sejarah gereja Katolik. Ia lahir pada tahun 1390 di Kanty, Polandia. Sejak kecil, Yohanes menunjukkan semangat dan tekad yang kuat untuk menjadi imam. Oleh karena itu, ia memilih untuk belajar filsafat dan teologi di Krakow, kota yang terkenal dengan universitasnya.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Yohanes dikenal sangat cerdas dan brilian. Di sekolah, ia mampu menyelesaikan studinya dengan mudah dan mendapatkan gelar doktor. Setelah lulus, ia ditahbiskan menjadi imam dan diangkat sebagai profesor Kitab Suci dan Teologi. Keakrabannya dengan mahasiswa membuatnya menjadi sosok yang disukai dan dihormati. Ia tidak hanya mengajar dengan cara yang menarik, tetapi juga menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajarannya. Yohanes dikenal sebagai seorang guru yang murah hati dan senantiasa membantu para miskin serta mahasiswanya.
Setelah ditahbiskan menjadi imam, Yohanes terus memperdalam ilmunya. Ia mempersembahkan dirinya untuk memulihkan keagungan Tuhan yang sering kali disepelekan oleh manusia. Ia juga memiliki devosi istimewa kepada Kristus yang bersengsara. Dengan rajin merenungkan makna kesengsaraan Yesus, ia berusaha membangun kesadaran akan pentingnya pengorbanan dalam kehidupan rohani.
Kebaikan dan kehebatannya menimbulkan iri dari rekan-rekannya, sehingga akhirnya ia dipindahkan ke Olkusz sebagai pastor paroki. Di sana, Yohanes menunjukkan kebijaksanaan dan kerendahan hati yang luar biasa. Ia sangat menyayangi umatnya dan selalu berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai gembala. Meski ada perbedaan pendapat antara apa yang ia anggap baik dan kebutuhan umat, kelemah-lembutan dan kerendahan hatinya akhirnya berhasil menarik simpati umatnya.
Setelah beberapa tahun berkarya di Olkusz, Yohanes dipanggil kembali ke Krakow untuk mengajar Kitab Suci. Ia menjalani tugas ini hingga akhir hayatnya. Yohanes Kansius adalah seorang imam yang serius dalam menjalankan tugasnya, tetapi tetap rendah hati. Kebaikan hatinya sangat dikenal oleh semua umat di kota Krakow, terutama mereka yang miskin dan malang.
Ia sering membantu orang-orang miskin dengan uang dan hartanya. Untuk kebutuhannya sendiri, ia hanya menyisihkan sedikit uang. Jam tidurnya sangat singkat, dan makanannya pun sangat sederhana tanpa lauk-pauk. Cintanya yang besar kepada Kristus tersalib mendorongnya beberapa kali berziarah ke Yerusalem untuk menyaksikan jalan sengsara Yesus.
Yohanes juga ingin mewartakan Injil kepada bangsa Turki dengan harapan menjadi martir di tangan mereka. Dalam ziarah-ziarahnya, ia sering memikul beban sendiri. Ketika atasannya memberinya nasihat untuk memperhatikan kesehatannya, ia menjawab dengan tenang: "Hidup kita adalah dalam tangan Tuhan. Lihat saja pada para rahib yang hidup di padang gurun dengan matiraga dan puasa yang keras; namun mereka itu justru berumur panjang."
Yohanes Kansius menanggung beban derita batin yang luar biasa karena kebencian orang lain, tetapi ia tetap tenang dan bahkan semakin tekun dalam matiraga dan berpuasa. Ia sering pergi ke Roma untuk bertemu dengan Sri Paus. Salah satu kejadian kecil yang dialaminya dalam perjalanan ke Roma menunjukkan kebaikan dan kemurahan hatinya.
Pada suatu perjalanan ke Roma, ia disergap dan ditodong oleh beberapa orang perampok. Mereka meminta uang atau emas darinya. Dengan tenang, ia mengatakan bahwa ia hanya memiliki pakaian yang dikenakannya. Ia melanjutkan perjalanannya tanpa memberi apa-apa kepada perampok-perampok itu. Namun, setelah beberapa langkah, ia teringat bahwa di dalam saku mantelnya ada sebutir emas. Ia segera kembali untuk menyerahkan emas itu kepada perampok-perampok tersebut. Perampok-perampok itu malu dan tidak mau menerima emas tersebut. Akhirnya, mereka membiarkan Yohanes melanjutkan perjalanannya.
Banyak tanda heran terjadi atas nama Yohanes Kansius, baik sebelum maupun sesudah kematiannya pada malam Natal 1473.
Santo Servulus, Pengaku Iman
Santo Servulus adalah seorang pengaku iman yang hidup dalam penderitaan. Karena tertimpa penyakit, tubuhnya menjadi lumpuh. Ia tidak bisa duduk atau berdiri tegak, bahkan menggerakkan tangannya pun ia tidak mampu. Setiap hari, ibu dan kakaknya membaringkannya di pintu gerbang gereja Santo Klemens di Roma.
Di situ, ia menantikan belaskasih orang-orang yang lewat. Salah satu keunggulan Servulus adalah ia dengan senang hati menyisihkan sedikit uang dari pendapatannya untuk teman-temannya yang senasib dengannya. Banyak orang kagum akan kesabaran dan ketabahannya dalam menanggung penderitaannya.
Servulus pasrah kepada Tuhan. Dalam kemalangannya itu, ia tidak lupa berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas semua yang telah diterimanya dari belaskasih banyak orang. Keadaan hina dan penderitaannya menjadi berkat dan sumber keselamatan serta sarana mencapai kesucian hidup. Ketika mendekati ajalnya, si pengemis itu memohon teman-temannya untuk berdoa dan menyanyikan Mazmur baginya. Ia meninggal dunia pada tahun 590.
Komentar
Kirim Komentar