
Peringatan Bulan Peduli Autoimun Nasional di Bandung
Bulan peduli autoimun Nasional di Bandung dirayakan dengan berbagai kegiatan yang menggabungkan seni dan edukasi. Salah satu acara utama adalah gelaran musik Jazz yang bertajuk “Jazz Night: A Tribute to Autoimmune Survivors in Indonesia”. Acara ini diselenggarakan oleh Marisza Cardoba Foundation (MCF) di LOT 69 eRKa, Kota Bandung. Kegiatan ini menampilkan kolaborasi istimewa dari The Jazz Traveller.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Marisza Cardoba, pendiri MCF dan Autoimun.id, menjelaskan bahwa autoimun adalah penyakit kompleks yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Menurutnya, saat ini telah dikenal lebih dari 80 jenis penyakit autoimun, termasuk lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, dan scleroderma.
Prevalensi lupus di Indonesia diperkirakan mencapai 0,5–1,7 persen populasi, atau lebih dari 1,3 juta orang. Mayoritas penderita adalah wanita usia produktif (15–45 tahun). Secara umum, penyakit autoimun diperkirakan menyerang 5–10 persen populasi Indonesia, setara dengan 12–25 juta orang. Setelah pandemi Covid-19, beberapa penelitian juga menunjukkan peningkatan kasus autoimun di berbagai daerah.
Marisza ingin terus memberikan dukungan bagi para penyintas autoimun di Indonesia sambil mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memahami penyakit ini. Ia menyatakan bahwa autoimun sering kali disalahartikan dan butuh perhatian publik.
"Pesan inti dari kegiatan ini adalah kami ingin lebih menggaungkan lagi perihal autoimun supaya masyarakat di seluruh Indonesia sadar bahwa autoimun itu ada di sekeliling kita, tidak perlu ditakuti, tapi juga tidak bisa dianggap sepele,” ujarnya.
Di Amerika Serikat, autoimun diumumkan sebagai peringkat ketiga penyakit mematikan yang menyerang 15,5 persen dari total penduduknya. Berdasarkan hal itu, masyarakat Indonesia juga perlu waspada karena autoimun sendiri telah menjadi epidemi di berbagai belahan dunia.
“Kami berharap dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat tentang autoimun. Banyak dari penyintas autoimun sekitar 90% adalah perempuan usia produktif yang kehilangan waktu produktifnya,” ucapnya.
Marisza juga berbagi pengalamannya sebagai penyintas. Ia mengatakan bahwa dulu ia hanya bisa aktif 4 sampai 5 jam saja. Namun, dengan dukungan yang diberikan, pengobatan medis yang intens, serta perubahan perilaku, pola hidup sehat, dan pola makan sehat, ia kini sudah remisi. Remisi adalah kondisi di mana tubuh seorang penyintas autoimun bisa bertahan tanpa obat-obatan, tetapi tentunya setelah menjalani rangkaian pola hidup sehat yang intens.
Di tempat yang sama, Wali Kota Bandung, M. Farhan, menyambut baik inisiatif edukasi yang menggabungkan unsur seni. Ia memastikan pemerintah akan memberikan dukungan komunitas yang fokus memberikan edukasi.
“Saya senang karena saya pikir ini tempat jazz club baru, ternyata di sini orang-orang di sini orang yang peduli dan fokus mengedukasi serta menyosialisasikan tentang autoimun. Saya berbahagia,” ujarnya.
“Kami akan memberikan support yang bersifat dorongan dan pesan bahwa kalian tidak sendiri. Kepada penyintas autoimun, yang terpenting adalah jangan pernah berhenti untuk berusaha dan megedukasi kita yang tidak tahu atau tidak banyak tahu. Terima kasih sudah berjuang,” pungkasnya.
Pemahaman dan Kesadaran Masyarakat
Autoimun merupakan penyakit yang masih sering dikaitkan dengan ketidaksehatan mental, padahal penyakit ini sangat berbeda. Penyakit ini memengaruhi sistem imun tubuh, sehingga tubuh mulai menyerang sel-sel sehat. Hal ini membuat penderita merasa lelah, nyeri, dan bahkan kehilangan kemampuan untuk bekerja secara optimal.
Beberapa gejala umum dari penyakit autoimun meliputi:
- Kelelahan ekstrem
- Nyeri sendi dan otot
- Ruam kulit
- Demam
- Pembengkakan pada area tertentu
Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa penyakit ini tidak hanya menyerang orang tertentu, tetapi bisa terjadi pada siapa saja. Dengan meningkatkan kesadaran, masyarakat dapat membantu penyintas dengan cara yang lebih efektif.
Peran Komunitas dan Edukasi
Komunitas seperti MCF berperan penting dalam memberikan informasi dan dukungan kepada para penyintas. Melalui acara seperti Jazz Night, mereka tidak hanya menyebarkan kesadaran, tetapi juga menciptakan ruang bagi penyintas untuk saling berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional.
Selain itu, edukasi juga diperlukan agar masyarakat dapat memahami gejala dan cara menghadapi penyakit autoimun. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat dapat menghindari kesalahan diagnosis dan mendapatkan pengobatan yang tepat.
Tantangan dan Harapan
Meski kesadaran masyarakat semakin meningkat, tantangan masih ada. Banyak penyintas mengalami isolasi sosial karena kurangnya pemahaman masyarakat. Selain itu, biaya pengobatan yang tinggi juga menjadi hambatan bagi banyak orang.
Namun, harapan tetap ada. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, penyintas autoimun dapat memiliki masa depan yang lebih cerah. Semakin banyak acara seperti Jazz Night yang digelar, semakin besar peluang untuk meningkatkan kesadaran dan pengertian tentang penyakit ini.
Komentar
Kirim Komentar