
Siswa di Batam Diduga Mengalami Kesehatan Menurun Setelah Konsumsi Makan Bergizi Gratis
Seorang siswa SMP di Batam dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) yang disediakan oleh sekolahnya. Kejadian ini terjadi pada Rabu (24/9/2025), dan siswa tersebut segera dibawa ke Puskesmas Kampung Jabi di Nongsa untuk mendapatkan perawatan medis.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kabar ini menyebar cepat di kalangan siswa dan orang tua, sehingga memicu kekhawatiran akan kualitas makanan yang diberikan di sekolah. Beberapa orang tua khawatir dampak jangka panjang dari konsumsi MBG yang diberikan kepada anak-anak mereka.
Menurut informasi yang dikumpulkan, siswa tersebut datang ke sekolah dengan kondisi yang tidak stabil. Ia mengeluhkan rasa mual, sakit perut, serta kelelahan berlebihan. Orang tua siswa langsung menjemput anaknya dari sekolah dan membawanya ke Puskesmas Kampung Jabi sekitar pukul 11:00 WIB.
Dikonfirmasi, dokter Ade selaku kepala Puskesmas Kampung Jabi menyatakan bahwa ada satu siswa SMP yang dirawat karena kondisi kesehatannya menurun setelah mengonsumsi MBG. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa siswa tersebut tidak mengalami keracunan, melainkan mengalami sakit perut akibat memiliki pantangan dalam mengonsumsi makanan pedas.
"Anak tersebut sebelumnya tidak pernah makan cabai, tetapi tiba-tiba diberi makan cabai. Hal ini menyebabkan sakit perut," ujar dokter Ade.
Sementara itu, seorang guru dari SMPN 8 Batam, Akbar Giffary, membenarkan adanya laporan tentang siswa yang dirawat di Puskesmas Kampung Jabi. Menurutnya, temannya yang bekerja di Puskesmas menghubungi dirinya dan memberitahu bahwa ada siswa dari SMPN 8 yang masuk ke puskesmas. Meski demikian, ia belum menerima laporan resmi dari pihak sekolah.
Namun, pernyataan guru ini berbeda dengan pernyataan dari Kepala Sekolah SMPN 8 Batam, Rosmiati. Ia menyatakan bahwa tidak ada siswa dari sekolahnya yang mengalami keracunan atau harus dirawat di Puskesmas. Menurutnya, hingga saat ini, belum ada laporan resmi yang diterima terkait kejadian tersebut.
"Tidak ada siswa kami yang keracunan. Kami belum menerima informasi apapun terkait hal ini. Hingga hari ini, kami sudah melakukan pengecekan dan tidak ada siswa yang sakit. Seluruh siswa sedang libur," ujar Rosmiati.
Kejadian ini memicu diskusi lebih lanjut tentang pengawasan terhadap makanan yang diberikan kepada siswa di sekolah. Banyak pihak mulai mempertanyakan prosedur pengadaan makanan dan bagaimana pihak sekolah memastikan bahwa semua makanan yang disajikan aman dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi serta toleransi masing-masing siswa.
Beberapa orang tua juga meminta agar pihak sekolah lebih transparan dalam menyampaikan informasi terkait penyediaan makanan dan penanganan kejadian seperti ini. Mereka berharap agar langkah-langkah pencegahan dapat diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.
Komentar
Kirim Komentar