
Tiongkok Menentang Keputusan AS yang Mengenakan Tarif Tinggi
Tiongkok mengecam keputusan Amerika Serikat (AS) yang mengenakan tarif impor sebesar 100 persen terhadap barang-barang tertentu. Pihak Tiongkok menyebut tindakan AS ini sebagai perwujudan dari standar ganda yang tidak adil. Mereka menilai bahwa langkah tersebut tidak hanya merugikan hubungan bilateral, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam merespons keputusan AS, Tiongkok mengambil langkah strategis yang dianggap lebih berprinsip dan wajar. Salah satu upaya mereka adalah dengan menerapkan kebijakan pengendalian ekspor yang bijaksana dan moderat. Langkah ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pungutan pajak tambahan yang akan berlaku mulai 1 November. Keputusan ini awalnya diwacanakan pada 10 Oktober 2025, sebagai balasan atas pembatasan ekspor baru Tiongkok terhadap mineral tanah jarang seperti nikel atau bauksit.
Selain itu, AS juga mengancam akan membatalkan pertemuan yang direncanakan antara Presiden Xi Jinping dan pemimpin negara lainnya akhir bulan ini. Hal ini menunjukkan meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan bahwa mulai tanggal 9 Oktober, Tiongkok merilis langkah-langkah pengendalian ekspor untuk mineral tanah jarang dan material serupa. Mereka mengklaim bahwa tindakan ini merupakan bagian dari sistem pengendalian ekspor yang diperbaiki sesuai hukum dan peraturan.
"Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, Tiongkok senantiasa menjaga keamanan nasional dan keamanan bersama internasional dengan teguh, senantiasa mengambil sikap berprinsip yang adil dan wajar, serta menerapkan langkah-langkah pengendalian ekspor secara bijaksana dan moderat," demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China.
Penilaian Terhadap Kebijakan Ekonomi AS
Sejak September 2024, AS dituding meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Tiongkok. Pernyataan AS dianggap mencerminkan 'standar ganda' yang biasa dilakukan. Selama ini, AS telah melebih-lebihkan konsep keamanan nasional, menyalahgunakan kendali ekspor, dan mengambil tindakan diskriminatif terhadap Tiongkok. Mereka juga memberlakukan tindakan yurisdiksi lengan panjang sepihak pada berbagai produk, termasuk peralatan industri semikonduktor dan chipset.
Perbedaan antara rezim pengendalian ekspor kedua negara juga menjadi perhatian. Daftar Pengendalian Perdagangan (CCL) AS mencakup lebih dari 3.000 barang, sementara Daftar Pengendalian Ekspor Barang-barang Penggunaan Ganda Tiongkok hanya mencakup sekitar 900 barang. Selain itu, AS telah lama memberlakukan aturan 'de minimis' untuk pengendalian ekspor, dengan ambang batas terendah 0 persen.
Langkah-langkah AS ini dianggap sangat merugikan hak dan kepentingan perusahaan yang sah dan sesuai hukum. Hal ini juga mengganggu tatanan ekonomi dan perdagangan internasional, serta sangat merusak keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global.
Tindakan Tiongkok dalam Menghadapi Ketegangan
Tiongkok terus berupaya untuk menjaga keseimbangan dalam hubungan ekonomi dengan AS. Mereka menekankan pentingnya prinsip keadilan dan keadilan dalam perdagangan internasional. Dengan mengambil langkah-langkah pengendalian ekspor yang bijaksana, Tiongkok berharap dapat mengurangi dampak negatif dari kebijakan AS yang dianggap tidak proporsional.
Selain itu, Tiongkok juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Mereka percaya bahwa dialog dan kerja sama adalah kunci untuk menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih stabil dan saling menguntungkan.
Komentar
Kirim Komentar