
Ritual Adat Thetek Melek di Desa Sukoharjo, Pacitan
Ritual adat Thetek Melek kembali digelar di sawah Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Acara ini menjadi wadah doa dan ekspresi seni yang menggambarkan keharmonisan antara manusia dan alam. Tradisi turun-temurun ini diyakini memiliki makna mendalam dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat ikatan sosial masyarakat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Acara tahun ini tidak hanya berupa ritual inti, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai aktivitas pendukung yang menambah semaraknya perayaan. Termasuk festival budaya, jagong tani, aksi melukis seribu bongkok, serta pasar UMKM yang turut berkontribusi pada perekonomian warga sekitar.
Prosesi Sakral dan Simbolik
Ritual Thetek Melek digelar setiap tahun, dengan peserta terdiri dari warga, seniman, dan pemimpin daerah. Pada acara kali ini, rombongan warga membawa opyak-opyakan hama sambil menaruh tumpeng sebagai simbol doa. Diiringi oleh tetabuhan unik, serombongan warga lainnya dipimpin oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji melewati pematang sawah sambil membawa bongkok (pelepah kelapa) bolong.
Bongkok bolong tersebut selanjutnya diserahkan kepada Mbah Lurah (Kades Sukoharjo) untuk ditancapkan di tanah. Prosesi ini diikuti oleh warga lain yang juga turut menancapkan bongkok di seluruh pematang sawah. Tidak hanya itu, pertunjukan seni seperti Kiblat Papat Limo Pancer dan tari orang-orangan sawah juga tersaji dalam rangkaian acara.
Makna dan Tujuan Ritual
Thetek Melek merupakan ritual adat yang berfungsi menjaga harmoni antara manusia dan alam agraris. Selain itu, ritual ini juga menjadi ruang simbolik yang menyimpan potensi kreatif dan sosial. Diketahui bahwa Thetek Melek adalah tradisi turun-menurun di Pacitan yang bertujuan untuk mengusir pagebluk. Ritual ini sempat terhenti akibat pandemi covid-19, namun kembali digelar pada 2022 dan terus berlangsung hingga saat ini.
Bupati Pacitan, Mas Aji, menyampaikan bahwa ritual ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga bentuk doa dan ikhtiar bersama. Tujuannya adalah agar alam selalu bersahabat dengan petani. “Ini bukan sekedar seremonial. Tetapi bagian doa dan ikhitiar kita bersama untuk Kabupaten Pacitan,” ujarnya.
Aktivitas Pendukung dan Puncak Acara
Selain prosesi inti, gelaran Thetek Melek tahun ini memiliki perbedaan karena adanya berbagai kegiatan pendukung. Festival budaya memberikan ruang bagi seniman lokal untuk menampilkan karya mereka. Jagong tani menjadi ajang kompetisi yang melibatkan para petani. Sementara itu, aksi melukis seribu bongkok menjadi salah satu aktivitas yang menarik perhatian masyarakat.
Pasar UMKM juga turut berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian warga sekitar. Puncak acara ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat. Setelah itu, warga yang hadir juga berkesempatan untuk makan bersama, memperkuat ikatan kebersamaan dan kekeluargaan.
Kesimpulan
Ritual Thetek Melek tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Melalui berbagai aktivitas pendukung, acara ini mampu menciptakan dampak positif baik secara budaya maupun ekonomi. Dengan demikian, Thetek Melek tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Pacitan.
Komentar
Kirim Komentar