
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penjelasan Mendagri Tito Karnavian Mengenai Bantuan Malaysia ke Aceh
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan penjelasan terkait pernyataannya yang sempat memicu kontroversi. Ia menegaskan bahwa tidak pernah ada niat untuk meremehkan bantuan atau dukungan dari masyarakat dan pemerintah Malaysia kepada korban bencana di Aceh.
Pernyataan ini disampaikan oleh Tito di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Jumat. Ia menyatakan bahwa pernyataannya sebelumnya mungkin disalahpahami oleh sebagian pihak. Menurutnya, ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan peran serta kontribusi dari warga Malaysia.
“Pernyataan saya kemarin mungkin disalahpahami. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan bantuan, dukungan dari warga Malaysia kepada Aceh, tidak, sama sekali tidak bermaksud itu,” ujar Tito.
Permintaan Maaf dan Kejelasan Pernyataan
Tito secara terbuka menyampaikan permohonan maaf jika pernyataannya menimbulkan kesan negatif di publik, khususnya bagi masyarakat Malaysia. Ia menjelaskan bahwa maksudnya adalah untuk mengingatkan pentingnya apresiasi terhadap upaya pemerintah dan masyarakat dalam negeri.
“Saya sama sekali tidak bermaksud mengecilkan bantuan dan dukungan dari saudara-saudara kita di Malaysia. Kalau ada yang salah paham, saya minta maaf,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia telah terjalin sangat baik, baik secara personal maupun profesional. Hubungan tersebut sudah berlangsung lama, mulai dari kerja sama dalam penanganan terorisme pasca-bom Bali hingga saat ini, ketika dirinya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.
Fokus pada Apresiasi untuk Upaya Dalam Negeri
Tito menjelaskan bahwa penekanan utama dari pernyataannya bukan untuk membandingkan atau mengurangi arti bantuan luar negeri, melainkan agar kerja besar pemerintah Indonesia—baik pusat maupun daerah—juga mendapatkan apresiasi yang setara.
Ia mengungkapkan bahwa sejak hari-hari awal bencana, pemerintah bergerak cepat melakukan penanganan. Tito sendiri turun langsung ke Aceh pada 29 November 2025. Ia meninjau dan mengoordinasikan penyaluran bantuan di Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, hingga Lhokseumawe, bersama TNI, Polri, BNPB, Basarnas, serta pemerintah daerah.
“Banyak sekali yang sudah dikerjakan sejak hari pertama, hanya memang tidak semuanya terekam media,” ujarnya.
Pemerintah Kerahkan Logistik Besar
Selain itu, Tito memaparkan berbagai upaya pemerintah pusat dalam penanganan bencana, mulai dari pengerahan logistik dalam jumlah besar, termasuk ratusan ton beras dari Bulog, mobilisasi helikopter, kapal, dan pesawat atas arahan Presiden, hingga dukungan anggaran cepat bagi daerah yang mengalami keterbatasan dana operasional.
Ia menegaskan apresiasinya terhadap bantuan dari luar negeri, termasuk dari Malaysia yang memiliki ikatan serumpun dan hubungan emosional kuat dengan Aceh. Namun demikian, Tito mengingatkan agar kerja keras aparat negara, relawan, dan para donatur dalam negeri tidak terpinggirkan oleh narasi pemberitaan yang tidak seimbang.
“Yang saya maksud, tolong juga dihargai upaya pemerintah pusat, pemerintah daerah, relawan, dan donatur dalam negeri yang bekerja luar biasa, meski sering tidak terekspos,” katanya.
Tegaskan Komitmen Hubungan Baik RI–Malaysia
Di akhir pernyataannya, Tito kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia. Ia menekankan bahwa penekanan utamanya adalah agar upaya dalam negeri juga dihargai.
“Penekanan saya itu cuma satu sebetulnya, tolong, yang di dalam negeri juga dihargai, kira-kira gitu,” ucapnya.
Sebelumnya, dalam sebuah unggahan di media sosial, Tito menyebut nilai bantuan kemanusiaan dari Malaysia untuk Aceh berkisar Rp1 miliar. Namun, ia kemudian menegaskan bahwa nilai bantuan tersebut tidak sampai mencapai angka tersebut. Ia menilai bahwa anggaran yang dimiliki Indonesia jauh lebih besar dibandingkan nilai bantuan tersebut.
“Nilainya nggak sampai Rp1 miliar, kalau sampai Rp1 miliar kita cukup punya anggaran jauh dari itu, mungkin anggarannya tidak seberapa dibandingkan kemampuan kita lebih dari itu,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu kritik dari Tan Sri Rais Yatim yang menyinggung soal etika diplomasi dan cara penyampaian narasi bantuan luar negeri.
Komentar
Kirim Komentar