
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Isu Gempa dan Potensi Tsunami di Indonesia
Gempa berpotensi tsunami selalu menjadi pengingat akan risiko geologis yang dihadapi Indonesia. Risiko ini tidak hanya mengancam permukiman di daerah pesisir, tetapi juga berdampak pada berbagai operasi industri, termasuk tambang emas bawah tanah yang beroperasi di kedalaman bumi.
Kajian risiko geologis sangat penting, terutama bagi sektor pertambangan yang menggunakan metode rumit. Dua perusahaan besar yang menjadi contoh adalah PT Freeport Indonesia dan PT Antam Tbk.
Tragedi Freeport 2013: Pelajaran Berharga dalam Tambang Bawah Tanah
Risiko terbesar dari tambang emas bawah tanah adalah keruntuhan (collapse). Tragedi memilukan pernah menimpa PT Freeport Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi pada 14 Mei 2013, saat atap fasilitas pelatihan bawah tanah di area Big Gossan, Tembagapura, Papua, ambruk.
Korban dari insiden ini adalah 38 pekerja, di mana 28 di antaranya tewas dan 10 orang lainnya selamat. Tragedi ini menjadi pelajaran keras tentang pentingnya keamanan dan kondisi lubang tambang bawah tanah yang harus diperhatikan secara ketat.
Metode Tambang Bawah Tanah PT Antam UBPE Pongkor
PT Antam Tbk. UBPE Pongkor, yang juga bergerak di sektor emas, memilih metode tambang bawah tanah yang spesifik. Pemilihan metode ini sangat bergantung pada kedalaman deposit bijih dan kondisi batuan di sekitar tambang.
Metode Utama yang Digunakan
PT Antam Tbk. UBPE Pongkor memilih dua metode utama, yaitu: * Cut and Fill * Shrinkage Stoping method
Karakteristik Metode
Metode Cut and Fill melibatkan pengisian kembali ruang kosong bekas penambangan dengan material, biasanya limbah batuan. Tujuannya adalah meningkatkan stabilitas dan mencegah keruntuhan, langkah mitigasi yang penting untuk operasi bawah tanah yang semakin dalam.
Kaitan Risiko Geologis (Gempa) dan Tambang Bawah Tanah
Meskipun secara langsung risiko gempa berpotensi tsunami lebih berkaitan dengan tambang di pesisir, operasi tambang emas bawah tanah sangat rentan terhadap getaran geologis. Gempa bumi dapat memicu keruntuhan batuan, longsoran di dalam terowongan, atau kerusakan pada sistem ventilasi dan penyangga.
Oleh karena itu, pengawasan sistem ventilasi dan dimensi lubang tambang harus sangat ketat untuk memastikan keselamatan operasional. Ini menjadi prioritas utama dalam menjaga keberlanjutan dan keamanan operasi pertambangan.
Pentingnya Pengawasan dan Mitigasi Risiko
Dalam industri pertambangan, khususnya tambang bawah tanah, pengawasan dan mitigasi risiko menjadi hal yang sangat krusial. Dari pengalaman tragis seperti di PT Freeport Indonesia, kita belajar bahwa setiap aspek dari operasi tambang harus dikelola dengan hati-hati dan profesional.
Perusahaan-perusahaan seperti PT Antam Tbk. telah mengadopsi metode-metode yang dirancang untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas operasi. Hal ini mencerminkan komitmen mereka terhadap keselamatan pekerja dan lingkungan sekitar.
Penggunaan teknologi dan pendekatan ilmiah dalam manajemen risiko geologis menjadi kunci sukses dalam operasi tambang bawah tanah. Dengan demikian, meskipun ada ancaman dari gempa dan getaran geologis, industri pertambangan dapat terus beroperasi dengan aman dan efisien.
Komentar
Kirim Komentar