
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Presiden AS Donald Trump Siap Kembali Bertemu Kim Jong Un
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kesiapan untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam kunjungan diplomatik ke Asia. Pernyataan ini dilontarkan saat Trump memulai lawatan singkatnya ke kawasan tersebut dengan agenda perundingan perdagangan bersama Presiden China, Xi Jinping.
Pertemuan antara Trump dan Kim Jong Un bisa menjadi yang pertama sejak 2019 jika terwujud. Selama masa jabatannya yang pertama, Trump mencatat sejarah sebagai presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di Korea Utara ketika keduanya bertemu dan berjabat tangan pada 2019.
“Saya terbuka. Kalau dia juga mau, saya siap bertemu,” ujar Trump kepada wartawan. Ia bahkan mengaku masih memiliki hubungan yang baik dengan Kim.
Kemungkinan pertemuan ini kembali menguat setelah Menteri Unifikasi Korea Selatan menyebut peluang keduanya bertemu di forum APEC cukup besar, meskipun pejabat AS menegaskan belum ada rencana resmi.
Perang Dagang dengan China Memanas
Sementara itu, pertemuan Trump dengan Xi Jinping akan berlangsung di tengah ketegangan perang dagang. Trump mengancam memberlakukan tarif 100 persen akibat pembatasan ekspor tanah jarang, mineral vital yang sebagian besar masih dikuasai China.
Meski pernah mengejek Kim sebagai “manusia roket kecil”, Trump dan Kim sempat bertemu tiga kali selama masa jabatannya. Namun, pembicaraan tentang penghentian program nuklir Korea Utara tidak menghasilkan kesepakatan. Di sisi lain, Korea Utara terus melanjutkan uji coba rudal jarak jauh dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya pikir mereka sudah menjadi kekuatan nuklir. Mereka memiliki banyak senjata. Itu kenyataannya,” kata Trump.
Sementara itu, Kim dalam pidatonya bulan lalu mengaku masih menyimpan kenangan baik terhadap Trump, tetapi menegaskan pertemuan hanya mungkin terjadi jika AS menghentikan tuntutan agar Korea Utara melepaskan senjata nuklirnya tanpa syarat.
Agenda Diplomasi di Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan
Malaysia menjadi pemberhentian pertama Trump, di mana ia dijadwalkan menandatangani perjanjian perdagangan dan menyaksikan penandatanganan perjanjian damai antara Thailand dan Kamboja. Ia juga berharap bertemu Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di sela-sela forum untuk memperbaiki hubungan setelah ketegangan beberapa bulan terakhir.
Selanjutnya, Trump terbang ke Tokyo untuk bertemu Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, perempuan pertama yang menduduki jabatan tersebut. Pemerintah Jepang diperkirakan tetap melanjutkan rencana meningkatkan anggaran pertahanan dan menggelontorkan investasi besar ke Amerika Serikat.
Namun, sorotan utama diperkirakan terjadi di Korea Selatan, tempat Trump akan menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Di sana, ia dijadwalkan bertemu Xi Jinping untuk pertama kalinya sejak kembali menjabat.
Perang Dagang dan Isu Taiwan serta Rusia
Pasar global diproyeksikan memantau ketat apakah kedua pemimpin dapat meredakan perang dagang yang kembali memanas menyusul perselisihan mengenai pembatasan ekspor tanah jarang oleh Beijing. Trump sempat mengancam membatalkan pertemuan dan menaikkan tarif hingga 100 persen, sebelum kemudian menegaskan bahwa pembicaraan tetap akan berlangsung.
Menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, agenda ini awalnya diperkirakan hanya menjadi pertemuan sampingan. Namun, Trump menyatakan bahwa pembahasan akan dilakukan secara mendalam untuk menyelesaikan banyak pertanyaan dan keraguan.
Kesepakatan sementara kemungkinan mencakup pelonggaran tarif, perpanjangan aturan perdagangan, atau komitmen China membeli produk AS seperti kedelai dan pesawat Boeing. Namun, Beijing pernah gagal memenuhi janji serupa dalam kesepakatan 2020.
Selain isu perdagangan, pertemuan Trump dan Xi juga diperkirakan membahas situasi Taiwan, serta posisi Rusia dalam perang Ukraina. Trump juga mengatakan ia mungkin akan mengangkat kasus Jimmy Lai, pendiri Apple Daily yang saat ini dipenjara di Hong Kong.
“Itu ada dalam daftar saya. Saya akan bertanya, kita lihat saja nanti,” kata Trump.
Komentar
Kirim Komentar