
Pemerintah Kota Surabaya, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjelang dan selama musim pancaroba. Periode transisi cuaca ini memiliki risiko tinggi untuk memicu peningkatan penyakit pernapasan, terutama pada kelompok balita yang menjadi fokus utama pencegahan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Salah satu langkah strategis yang diambil oleh Pemkot Surabaya adalah dengan menyediakan vaksinasi pneumonia secara gratis bagi balita di seluruh Puskesmas. Vaksin yang digunakan adalah Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), yang bertujuan memberikan perlindungan spesifik terhadap pneumonia, salah satu komplikasi serius dari ISPA.
Kepala Dinkes Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa program vaksinasi gratis ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak, dari risiko komplikasi berat akibat penyakit pernapasan.
"Berdasarkan data selama 10 tahun terakhir, kasus ISPA di Surabaya menunjukkan tren yang fluktuatif, sangat dipengaruhi oleh perubahan musiman, kondisi lingkungan, serta dinamika kepadatan dan mobilitas penduduk kota metropolitan," ujar Nanik, Sabtu (25/10).
Meski tren peningkatan kasus tidak selalu tajam, Nanik menegaskan bahwa musim pancaroba tetap menjadi periode kritis yang memerlukan kewaspadaan ekstra untuk mencegah lonjakan kasus yang signifikan.
Dinkes Surabaya telah menetapkan tiga pilar langkah konkret untuk mengantisipasi dan menangani potensi peningkatan pasien, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia. Berikut adalah pilar-pilar tersebut:
- Edukasi tentang hidup bersih dan sehat (PHBS): Dinkes gencar memberikan edukasi masif tentang pentingnya PHBS, penghimbauan penerapan etika batuk, bersin, dan penggunaan masker yang benar di tempat umum atau saat sakit.
- Pencegahan melalui imunisasi PCV gratis: Program imunisasi PCV telah masuk dalam Program Imunisasi Nasional. Vaksin ini menjadi garda terdepan untuk memberikan perlindungan kuat terhadap pneumonia dan infeksi berat lainnya pada balita.
- Kesiapan Fasyankes: Selain program pemerintah, bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan tambahan terhadap influenza, vaksinasi dapat dilakukan secara mandiri di Fasyankes swasta.
Nanik juga menjelaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan (Nakes) diwajibkan melakukan deteksi dini indikasi ISPA dan memberikan tatalaksana sesuai standar. "Hal ini krusial untuk mencegah kasus ISPA ringan berkembang menjadi pneumonia," terangnya.
Selain itu, Dinkes Surabaya memberikan perhatian serius melalui pemantauan ketat terhadap kasus ISPA berat dan pneumonia yang berpotensi menimbulkan komplikasi, khususnya pada balita dan lansia. Untuk memastikan respons cepat, Nanik memastikan bahwa sistem diagnosis dan pelaporan kasus dilakukan secara cepat dan akurat di seluruh wilayah Surabaya, terutama yang berpotensi menjadi pneumonia.
"Kami menerapkan pelaporan kasus secara real-time melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kemenkes RI. Sistem ini memungkinkan Dinkes secara berkala menganalisis tren kasus untuk menilai potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan mengambil langkah respons cepat bila ditemukan lonjakan kasus di suatu wilayah," paparnya.
Terakhir, Nanik mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang, istirahat cukup, dan rutin olahraga. Menerapkan kebiasaan bersih seperti cuci tangan pakai sabun dan pakai masker saat sakit atau di tempat umum.
“Dan segera memeriksakan diri ke Fasyankes jika muncul gejala ISPA seperti demam, batuk, atau sesak napas, terutama pada balita dan lansia, untuk deteksi dan penanganan dini,” pungkasnya.
Komentar
Kirim Komentar