Waspadai Dapur, Kanker Hati Berawal dari Sini, Buang Sumber Jamur Sekarang

Waspadai Dapur, Kanker Hati Berawal dari Sini, Buang Sumber Jamur Sekarang

Dunia medis kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Waspadai Dapur, Kanker Hati Berawal dari Sini, Buang Sumber Jamur Sekarang, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Dapur, Sumber Bahaya yang Tak Terlihat

Dapur adalah tempat utama dalam proses pengolahan makanan. Namun, di balik kebersihan dan kenyamanannya, tersembunyi ancaman yang sering kali diabaikan. Salah satu ancaman tersebut adalah jamur yang tumbuh pada bahan makanan. Jamur ini bukan hanya sekadar tanda makanan basi, tetapi bisa menjadi sumber racun berbahaya yang memicu kanker hati.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Banyak orang menganggap bahwa jika roti sedikit berjamur, cukup dipotong bagian yang rusak lalu sisanya tetap dimakan. Namun, kebiasaan ini justru berisiko tinggi. Menurut Dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, seorang Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, tidak semua jamur aman untuk dikonsumsi. Beberapa jenis jamur menghasilkan zat beracun bernama aflatoksin, yang dikenal bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.

“Jadi memang tadi benar (karsinogenik), jamur dari makanan,” kata dr. Jeffry dalam sesi edukasi media bertajuk: “Kenali dan Pahami: Kanker Hati Tipe Hepatocellular Carcinoma (HCC)”.

Jamur di Makanan, Sumber Racun yang Tak Terlihat

Menurut dr. Jeffry, jamur yang tumbuh di makanan lembap seperti roti, kacang, atau biji-bijian yang disimpan terlalu lama bisa menghasilkan aflatoksin. Zat ini dihasilkan oleh jamur jenis Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus, yang tumbuh baik di suhu dan kelembapan tropis, seperti di Indonesia.

Aflatoksin yang masuk ke tubuh dapat merusak sel-sel hati dan mengganggu metabolisme. Dalam jangka panjang, kerusakan ini bisa berkembang menjadi kanker hati primer (hepatoselular karsinoma), salah satu jenis kanker dengan angka kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Kebiasaan Menghemat yang Bisa Mengundang Bahaya

Kebiasaan masyarakat Indonesia yang enggan membuang makanan basi sering kali didasari alasan ekonomi dan rasa sayang terhadap makanan. Namun menurut dr. Jeffry, kebiasaan ini justru menjadi bumerang bagi kesehatan jangka panjang.

Banyak orang yang menganggap bahwa jamur pada makanan hanya masalah tekstur atau rasa. Padahal, toksin dari jamur tidak bisa hilang hanya dengan dipanggang, direbus, atau digoreng. Aflatoksin sangat stabil terhadap panas, sehingga tetap aktif meski makanan dimasak dengan suhu tinggi.

Dalam beberapa kasus, makanan yang tampak masih baik dan tidak berjamur pun bisa mengandung toksin bila disimpan di tempat lembap atau tertutup rapat tanpa sirkulasi udara. Hal ini sering terjadi pada biji-bijian, kacang tanah, jagung, dan produk olahannya seperti tempe, tahu, atau selai kacang yang tidak disimpan dengan benar.

Dampak Jangka Panjang Aflatoksin bagi Tubuh

Paparan aflatoksin dalam jumlah kecil tapi terus-menerus bisa menyebabkan peradangan kronis pada hati. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan sirosis, gangguan fungsi hati, dan pada kasus berat berkembang menjadi kanker hati.

Menurut data medis, negara-negara dengan iklim tropis memiliki prevalensi kanker hati yang tinggi karena paparan aflatoksin di makanan. Indonesia termasuk salah satunya. Dr. Jeffry menegaskan bahwa penyakit ini sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya mirip dengan penyakit lambung atau pencernaan biasa.

“Banyak pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit di ulu hati dan dikira maag. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata ada kerusakan hati yang cukup parah,” ujarnya.

Langkah Pencegahan di Rumah

Untuk mencegah paparan jamur berbahaya, masyarakat disarankan memperhatikan beberapa hal sederhana namun penting dalam penyimpanan makanan:

  • Hindari menyimpan makanan di tempat lembap. Gunakan wadah kedap udara dan simpan bahan kering seperti beras, tepung, atau kacang di tempat yang sejuk.
  • Periksa bahan makanan sebelum dimasak. Bila terdapat jamur, perubahan warna, atau aroma tidak sedap, buang seluruh bagian, bukan hanya yang tampak rusak.
  • Jangan konsumsi makanan kedaluwarsa. Meski tampak baik, bahan makanan yang lewat masa simpan berpotensi terkontaminasi jamur mikroskopis.
  • Gunakan kulkas dengan suhu stabil. Pendinginan membantu menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri.
  • Segera konsumsi makanan matang. Hindari menyimpan sisa makanan terlalu lama, terutama di suhu ruang.

Langkah-langkah sederhana ini bisa mengurangi risiko paparan toksin dari makanan dan menjadi bagian dari upaya pencegahan kanker hati sejak dini.

Kesimpulan: Semoga informasi ini berguna bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar