
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kisah Yusuf: Bapak yang Tidak Pernah Berbicara, Tapi Membuat Keselamatan Mungkin
Di tengah kegembiraan persiapan Natal dengan lampu, lagu, kado, dan pesta, ada seorang lelaki yang diam. Ia tidak berpidato, tidak mengklaim hak, tidak mengeluh atau mengutuk. Ia hanya mendengar, taat, dan melindungi. Namanya Yusuf. Ia bukan nabi, bukan raja, bukan malaikat, ia seorang bapak. Dan justru dalam ketulusan diamnya, Allah menempatkan dunia pada poros yang baru: Allah menyertai kita.
Di masa Adven yang mengajak kita bersiap dalam sunyi, kisah Yusuf mengingatkan: kehadiran Allah sering kali datang bukan lewat gemuruh, melainkan lewat keberanian seseorang untuk percaya dalam gelap, dan tetap memilih kebaikan ketika semua alasan mengajaknya menyerah.
Ketulusan Hati: Ketika Kebenaran Bertabrakan dengan Nama Baik
Yusuf adalah orang yang tulus. Bukan dalam arti naif, melainkan dalam arti utuh. Ia tahu Maria mengandung dan ia tahu, itu bukan anaknya. Di hadapannya terbentang dua jalan: Jalan hukum, menuduh Maria, menghadapkannya di muka umum, menyelamatkan reputasinya sebagai laki-laki saleh. Dan Jalan belas kasih, menceraikan Maria diam-diam, tanpa mempermalukannya, meski ia sendiri harus menanggung cela dan pertanyaan orang.
Ia memilih jalan yang kedua. Mengapa? Karena hatinya tidak hanya benar, tapi juga lembut. Ia tidak membiarkan keadilan mengeras menjadi kekejaman. Ia tidak mengorbankan martabat sesama demi menjaga mukanya sendiri.
Bagi kita, para bapak: tulus bukan berarti lemah. Tulus adalah keberanian memilih kebaikan yang tak terlihat, ketika dunia hanya menilai kesuksesan yang tampak. Di tengah tekanan sosial, "Anakmu kok begini?", "Kok bisa istrimu...?", "Kok tidak tegas...?" Yusuf mengingatkan: kehormatan sejati bukanlah apa yang orang katakan tentangmu, melainkan bagaimana engkau memperlakukan yang lemah di saat kau berkuasa atas mereka.
Mendengar dalam Mimpi: Iman yang Tak Menuntut Bukti, Tapi Membuka Diri pada Rahmat
Yusuf tidak meminta tanda, seperti Ahas yang menolak karena takut Allah benar-benar menjawab. Yusuf justru siap didatangi, meski dalam kebingungan. Ia sedang mempertimbangkan rencana dan di saat itulah, Allah berbicara: lewat mimpi. Bukan suara gemuruh di langit, bukan api di semak, bukan tulisan di dinding tapi lewat alam bawah sadar seorang lelaki yang lelah, setia, dan terluka.
Allah tahu: Yusuf butuh peneguhan, bukan pertunjukan. Maka Ia datang dengan lembut: "Yusuf, anak Daud..." Sebutan itu penting. Bukan sekadar nama, tapi pengingat identitas: Engkau bukan siapa-siapa, tapi engkau adalah bagian dari janji. Engkau adalah rantai dalam silsilah keselamatan. Engkau diperhitungkan. Kita juga demikian. Kita memiliki identitas yang meneguhkan keberanian dan keyakinan kita dalam berbuat atau mengambil keputusan penting. Sebuah identitas yang memperlihatkan tanggung jawab yang besar.
Di zaman yang penuh kebisingan, media sosial, tuntutan kerja, tekanan ekonomi, kita, para bapak, sering lupa mendengar. Kita sibuk mengambil keputusan, tapi jarang membuka ruang untuk didatangi. Yusuf mengajari: iman bukan soal memiliki semua jawaban, melainkan berani berhenti sejenak, membiarkan keheningan masuk, dan percaya, bahwa Allah masih berbicara, bahkan lewat hal-hal yang tampak biasa: lewat doa anak sebelum tidur, lewat tatapan istri yang letih, lewat firasat yang tak bisa dijelaskan logika.
Menjadi Penjaga Janji: Ketika Panggilan Mengubah Rencana Hidup
Secara manusiawi kita bisa bayangkan: Yusuf mungkin bermimpi punya keluarga kecil yang tenang, berdagang kayu, punya anak-anak yang ia ajari kerajinan, hidup sederhana di Nazaret. Tapi kemudian datang kabar: Ambil Maria sebagai isterimu. Anak ini bukan darah dagingmu. Namailah Dia Yesus, karena Dialah yang menyelamatkan. Kalian akan dipanggil keluarga Imanuel: Allah menyertai kita.
Ini bukan sekadar adopsi. Ini adalah pengabdian total. Ia harus rela: Dicap 'bodoh' oleh tetangga ("Masak perawan hamil, dia tetap ambil?") Menghadapi risiko sosial dan bahkan hukum. Menerima peran sebagai penjaga, bukan pencipta, seorang bapak yang melindungi Sang Anak Allah, tanpa hak atas kemuliaan-Nya.
Namun Yusuf taat. Ia bangun, lalu berbuat seperti yang diperintahkan.
Inilah panggilan bapak sejati: bukan menjadi pusat keluarga, tapi menjadi penopang yang tak terlihat, seperti kayu penyangga di balik dinding rumah. Kita tidak selalu dipuji. Kita tidak selalu dimengerti. Tapi ketika kita memilih setia (meski lelah, meski tak dihargai, meski rencana hidup harus dirombak) kita sedang ikut menopang janji Allah atas generasi kita. Kita sedang membangun "Betlehem" kecil dalam rumah kita: tempat di mana Allah diizinkan lahir kembali, lewat kasih yang tekun, disiplin yang penuh kasih, dan kehadiran yang tak pernah absen.
Penutup: Bapak-Bapak Kecil di Zaman yang Terburu-buru
Yusuf tidak pernah berbicara sepatah kata pun dalam Injil. Tapi tanpa diamnya, tanpa keberaniannya, tanpa ketaatannya, Yesus mungkin tidak pernah lahir dalam keluarga, tidak pernah disunat, tidak pernah diajari membaca Kitab Suci, tidak pernah belajar menjadi tukang kayu, tidak pernah tumbuh "bijaksana, besar tubuh-Nya, dan dikasihi Allah serta manusia" (Luk 2:52).
Ia adalah bapak yang kehadirannya membuat keselamatan mungkin.
Di masa Adven ini (saat kita menantikan Sang Terang) marilah kita berhenti sejenak, dan berdoa:
Tuhan, jadikan kami seperti Yusuf: lelaki yang tulus, bukan karena sempurna, tapi karena berani memilih belas kasih di tengah kecurigaan. Jadikan kami lelaki yang mendengar bukan hanya suara dunia, tapi desau Roh dalam sunyi malam. Dan jadikan kami penjaga: bukan penguasa rumah, tapi pelindung janji-Mu atas anak-anak kami. Sebab di tangan bapak-bapak yang diam-diam setia, Engkau masih memilih lahir kembali. Imanuel, Allah menyertai kami. Amin.
Untuk para bapak: hari ini, peluklah anakmu lebih lama. Pandanglah istrimu dengan mata baru. Dan ingatlah bapak-bapak (terutama diriku sendiri), diammu yang penuh kasih, mungkin sedang menyelamatkan dunia. Selamat hari Minggu Adven IV Selamat menyambut Natal yang makin dekat Selamat meneladani Santo Yusuf
Komentar
Kirim Komentar