Jarak yang Tidak Bisa Diukur

Ada jarak yang tidak bisa diukur oleh peta. Bukan soal berapa kilometer yang memisahkan dua kota, melainkan tentang rindu yang menetap diam-diam di dada. Di kota ini, aku belajar bertahan. Di kota itu, orangtuaku belajar menunggu.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Merantau untuk belajar adalah keputusan yang tampak sederhana di mata banyak orang. Sebuah langkah menuju masa depan, kata mereka. Namun, tak banyak yang benar-benar memahami bahwa di balik keputusan itu, ada proses pendewasaan yang sering kali sunyi. Tidak dramatis, tidak ramai, tapi perlahan mengubah cara kita memandang hidup.
Di kota orang ini, aku belajar menjadi dewasa bukan karena ingin, melainkan karena keadaan menuntut. Tidak ada orangtua yang bisa kupanggil setiap kali lelah. Tidak ada rumah yang menyambutku dengan makanan hangat ketika hari terasa berat. Semua harus kuhadapi sendiri, dengan cara yang kadang belum sepenuhnya kumengerti.
Aku terbiasa kuat di depan orang lain. Tersenyum, terlihat baik-baik saja, seolah jarak tidak pernah menjadi masalah. Padahal, ada malam-malam ketika aku memeluk rindu sambil menatap layar ponsel, berharap waktu bisa berlari lebih cepat menuju hari kepulangan. Rindu yang tak selalu ingin diucapkan, karena aku tahu di kota itu, orangtuaku pun sedang menahannya dengan cara mereka sendiri.
Belajar di tanah orang mengajarkanku banyak hal. Tentang mandiri, tentang bertanggung jawab pada diri sendiri, dan tentang memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hari-hari ketika aku ingin menyerah, ingin pulang, ingin kembali menjadi anak yang tidak perlu memikirkan apa-apa selain belajar dan pulang ke rumah. Tapi hidup tak memberiku pilihan itu.
Di kota ini, aku bertahan. Bertahan pada mimpi yang sedang kuusahakan. Bertahan pada tujuan yang ingin kucapai, meski kadang jalannya terasa sepi. Bertahan karena aku tahu, setiap langkah kecil yang kuambil hari ini adalah bentuk pengorbanan yang suatu hari ingin kupersembahkan pada orangtuaku.
Sementara itu, di kota asal, orangtuaku menunggu. Menunggu kabar dariku. Menunggu cerita-cerita kecil yang sering kali kusembunyikan agar mereka tak khawatir. Menunggu hari di mana aku pulang membawa versi diriku yang lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi hidup.
Aku sadar, menunggu pun bukan perkara mudah. Menunggu anak pulang dengan doa yang tak pernah putus. Menunggu dengan keyakinan bahwa semua perjuangan ini tidak sia-sia. Menunggu dengan sabar, meski rindu sering datang tanpa aba-aba.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, sejak kapan aku terbiasa menahan perasaan? Sejak kapan aku belajar kuat tanpa banyak bicara? Mungkin sejak aku menyadari bahwa dewasa bukan tentang usia, melainkan tentang kemampuan menerima keadaan tanpa terlalu banyak mengeluh.
Di tanah orang ini, aku belajar bahwa rindu tidak selalu harus diakhiri dengan pertemuan. Ada rindu yang cukup disimpan, dipeluk dalam doa, dan dikuatkan oleh keyakinan bahwa jarak ini suatu hari akan berakhir. Aku belajar bahwa tidak apa-apa merasa lelah, selama aku tidak berhenti melangkah.
Ada hari-hari ketika aku merasa sangat sendiri, meski dikelilingi banyak orang. Di saat seperti itu, aku mengingat wajah orangtuaku. Cara mereka melepas kepergianku dengan senyum yang sedikit dipaksakan, menyembunyikan rasa berat di hati. Dari sanalah aku kembali menemukan alasan untuk bertahan.
Belajar dewasa di kota orang juga mengajarkanku arti pulang. Pulang bukan sekadar kembali ke rumah, tapi tentang membawa cerita. Tentang kembali dengan hati yang lebih kuat dan pikiran yang lebih matang. Tentang menjadi anak yang tidak hanya datang membawa rindu, tapi juga kebanggaan.
Aku tidak tahu kapan semua perjuangan ini akan terasa ringan. Namun, aku percaya, setiap jarak memiliki maksud. Setiap penantian memiliki arti. Dan setiap rindu yang kini terasa berat, suatu hari akan berubah menjadi pelukan yang hangat.
Di kota ini aku bertahan, dengan segala keterbatasanku. Di kota itu, orangtuaku menunggu, dengan doa yang tak pernah lelah. Dan di antara dua kota itu, aku sedang belajar menjadi dewasa dengan perlahan, jujur, dan sepenuh hati.
Komentar
Kirim Komentar